Bupati Simalungun Jenguk Pasien Difteri di RSU Perdagangan

2019-12-03 0 comments simalungun Pemerintahan

Bupati Simalungun Dr. JR. Saragih, SH, MM berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam hal pelayanan Kesehatan. Kali ini, Bupati Simalungun meninjau pasien penderita penyakit Difteri usai mendapat laporan dari Kepala Dinas Kesehatan tentang Kondisi Luar Biasa (KLB) Suspect Difteri di Pasar I, Perdagangan, Kecamatan Bandar. Selasa (03/12).

Pada peninjauan ini didapati 4 orang penderita Difteri yang dirawat di RSUD Perdagangan yakni Herdian Situmorang (5 tahun), Yehezkiel Situmorang (6 tahun), Rama Situmorang (3 tahun) dan Mutiara Situmorang (2 tahun).

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Simalungun berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara telah merujuk 2 orang pasien Herdian Situmorang dan Yehezkiel Situmorang  ke Rumah Sakit Adam Malik, Medan (tanggal 02/12) untuk perawatan yang lebih intensif, namun sesampainya di Medan, salah satu pasien meninggal dunia.

Bupati Simalungun usai melihat kondisi pasien selanjutnya juga memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan Edwin Tony Simanjutak untuk segera merujuk pasien yang sedang dirawat di RSUD Perdagangan yang bernama Rama Situmorang dan Mutiara Situmorang agar dirujuk juga ke RS Adam Malik untuk penanganan yang lebih serius dan didampingi Dinas Kesehatan untuk mengikuti perkembangan dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara

Selanjutnya, Bupati juga meminta pihak Dinas Kesehatan Simalungun agar segera melakukan vaksinisasi disekitar daerah permukiman rumah korban dan melakukan sosialisasi terutama kepada bidan-bidan desa agar melakukan pemberian vaksin khususnya kepada bayi yang baru lahir.
"Pemerintah sudah menyiapkan vaksin gratis kepada semua masyarakat dan tidak perlu takut dan khawatir. Mari kita bersama-sama mencegahnya, dan apabila ada gejala agar secepatnya membawa kerumah sakit," ujar Bupati.

Dari penjelasan dokter spesialis, difteri merupakan Infeksi serius pada hidung dan tenggorokan atau selembar materi tebal dan abu-abu menutupi bagian belakang tenggorokan sehingga membuat sulit bernapas, yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae.

Salah satu penyebab utama kemunculan difteri adalah kurangnya pemahaman orang tua akan pentingnya vaksinasi bagi bayi dan balita.