Diposting tanggal: 07 Februari 2012
1. Infrastruktur Wilayah Yang Belum Memadai Dari Segi Kualitas Maupun Kuantitas
Kebutuhan
infrastruktur wilayah tidak terlepas dari fungsi dan peranannya
terhadap pembangunan wilayah sebagai pengarah pembentukan struktur tata
ruang, pemenuhan kebutuhan wilayah, pemacu pertumbuhan wilayah
serta pengikat wilayah. Rendahnya pelayanan infrastruktur wilayah
baik dari segi ketersediaan dan kualitas masih merupakan permasalahan
besar di Kabupaten Simalungun yang harus segera diatasi karena dapat
menghambat laju pembangunan daerah.
Berdasarkan hasil evaluasi, maka
untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur wilayah,
maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :
- Mengoptimalkan pelayanan jaringan jalan fungsi lokal baik mutu maupun dalam konteks pelayanan intermoda yang menjamin efisiensi pelayanan transportasi
- Membatasi tonase kenderaan
- Melibatkan peran serta swasta dan masyarakat dalam pembangunan/ pemeliharaan prasarana jalan.
- Membenahi kebutuhan alat-alat berat/ kendaraan berat bermotor dalam menunjang kelancaran pelaksanaan tugas kebinamargaan terutama dalam hal penanganan kondisi mendesak/ bencana alam.
- Pengembangan sistem transportasi dalam mendukung aksesibilitas antar wilayah
- Rehabilitasi daerah irigasi strategis
- Sistem pengelolaan, kualitas, kuantitas dan kontinuitas ketersediaan air baku untuk menunjang kegiatan rumah tangga, pertanian dan industri.
2. Jumlah Penduduk Miskin Yang Masih Tinggi
Jumlah
Penduduk Kabupaten Simalungun pada Tahun 2009 berjumlah 859.879 orang,
namun dari sisi kualitas pendidikan masih belum baik, akses kepada
kesehatan masih kurang, pendapatan yang rendah, kebutuhan kalori belum
mencukupi mengakibatkan masih tingginya angka kemiskinan. Dampak dari
kemiskinan tersebut adalah ketidakcukupan pengeluaran/ belanja,
kesehatan yang rendah, pendidikan rendah atau buta huruf, terisolir
secara sosial, rasa tidak aman, kurangnya kebebasan dan beraspirasi,
serta ketidakberdayaan. Penurunan penduduk miskin harus dilakukan secara
komprehensif yang melibatkan berbagai komponen/ stakeholder.
Masalah
kemiskinan dan pengangguran masih merupakan permasalahan yang belum
terselesaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Munculnya permasalahan baru
yang menyebabkan kecenderungan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran
yang disebabkan oleh faktor eksternal yaitu krisis ekonomi global yang
menimbulkan pemutusan hubungan kerja, serta masih rendahnya tingkat
pendapatan masyarakat khususnya kalangan petani akibat dari masih
rendahnya nilai tukar produk pertanian dan fluktuasi harga produk
pertanian.
3. Rendahnya Sinergisitas Kinerja Pemerintah Daerah
Pembangunan
bidang pemerintahan dari tahun ke tahun terus mengalami kemajuan dan
peningkatan yang ditunjukkan oleh beberapa capaian kinerja pembangunan
bidang aparatur, politik, hukum, serta ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat. Kinerja pemerintahan adalah perwujudan good governance
dengan ciri transparancy (keterbukaan), faerness (kewajaran),
responsibility (tanggung jawab yang jelas), dan efficiency (peningkatan
efisiensi) disegala bidang. Saat ini upaya perwujudan good governance
dilakukan melalui reformasi birokrasi antara lain dengan penataan
organisasi, perbaikan pelayanan publik, dan perbaikan manajemen
sumberdaya manusia aparatur.
Sinergitas pembangunan antar
pemerintah, provinsi dan kab kota, serta desa (nagori) belum optimal.
Dalam pelaksanaan pembangunan, implementasi pendekatan top down dan
buttom up dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, masih belum
menunjukkan sinergitas. Pada aspek kualitas dan kuantitas SDM dan
Sarana-prasarana Aparatur masih perlu untuk ditingkatkan. Masih lemahnya
peran desa (nagori) sebagai subjek pembangunan. Peran desa (nagori)
sebagai subjek pembangunan merupakan komitmen pemerintah` Kabupaten
Simalungun dalam pertumbuhan ekonomi daerah perlu dioptimalkan. Perlu
optimalisasi fokus desa (nagori) membangun sebagai subyek pembangunan
yaitu terselenggaranya tugas pembantuan dari Kabupaten ke Desa (nagori)
yang operasionalnya untuk penguatan kelembagaan pemerintah desa (nagori)
dan masyarakat di desa (nagori).
4. Aksesibilitas Dan Pelayanan Pendidikan Yang Belum Merata
Upaya
pembangunan pendidikan di Kabupaten Simalungun tidak terlepas dari 3
(tiga) Pilar pendidikan yang terdiri dari aspek pemerataan dan perluasan
aksesibilitas, aspek peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, serta
aspek tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.
Pada aspek
pemerataan dan perluasan aksesibilitas, yang menjadi isu utama adalah
penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Rancangan Wajib
Belajar 12 Tahun. Kedua isu tersebut akan berimplikasi pada tantangan
penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, serta
pembebasan biaya pendidikan khususnya pendidikan dasar.
Adapun dalam
rangka peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, yang
menjadi isu utama adalah pengembangan dan pengelolaan sekolah serta
peningkatan kualifikasi pendidikan guru menjadi S1. Peningkatan
kualifikasi guru menjadi prasyarat bagi proses sertifikasi guru dan
peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan.
Untuk aspek tata kelola,
akuntabilitas dan pencitraan publik, difokuskan pada upaya implementasi
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Pendidikan Berbasis Masyarakat
(PBM), standarisasi pelayanan pendidikan, serta pengelolaan data dan
informasi pendidikan.
Penerapan MBS dan PBM merupakan media untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan dan pengawasan
proses pendidikan. Adapun standarisasi pelayanan pendidikan merupakan
syarat bagi terlaksananya peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Sedangkan
penyediaan data dan informasi pendidikan yang akuntabel dan bersifat
kekinian menjadi kebutuhan dasar bagi proses perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi pembangunan pendidikan.
5. Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat
Dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat, yang menjadi isu strategis bidang kesehatan adalah :
- Terbatasnya aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dan gender serta pada kelompok rentan seperti: penduduk miskin, daerah tertinggal dan terpencil.
- Pemerataan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan belum sepenuhnya menunjang penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
- Permasalahan manajerial dalam sinkronisasi perencanaan kebijakan, program, data dan informasi kesehatan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan serta hukum kesehatan serta masih terbatasnya koordinasi dan integrasi Lintas Sektor
- Masih rendahnya alokasi anggaran kesehatan terutama untuk upaya preventif dan promotif serta operasionalisasi dan mobilisasi Puskesmas.
- Belum dimanfaatkannya obat tradisional/obat asli Indonesia untuk pelayanan kesehatan komplementer alternatif pada sarana kesehatan formal
6. Pengembangan Komoditi Unggulan Dan Pemasaran Produk Pertanian
Dalam rangka pengembangan komoditi unggulan dan pemasaran produk pertanian, yang menjadi isu strategis adalah :
- Belum optimalnya pengembangan komoditi unggulan di Kabupaten Simalungun.
-
- Fluktuasi harga produk pertanian tidak dapat diprediksi.
- Produksi pertanian belum dapat menembus tingkat Internasional
- Ketersediaan dan keterjangkauan saprodi (bibit, pupuk, obat-obatan)
- Menurunnya daya dukung lahan dan air.
- Masih lemahnya ketersediaan input produksi pertanian
- Rendahnya tingkat SDM petani dan minimnya modal usaha petani
7. Pemantapan Ketahanan Pangan Daerah
Jumlah
penduduk Kabupaten Simalungun yang relatif besar merupakan tantangan
yang besar dalam pembangunan ketahanan pangan. Kondisi tersebut
mengimplikasikan adanya tingkat permintaan pangan dan diperlukannya
ketertersediaan pangan yang besar dan harus terus ditingkatkan. Dengan
demikian pembangunan ketahanan pangan pada periode berikut khususnya
dari sisi aspek ketersediaan dituntut untuk mampu meningkatkan kapasitas
produksi dari waktu ke waktu, sementara di lain pihak ketersediaan
lahan baik secara kuantitas maupun kualitas semakin terbatas. Dinamika
sosial-budaya, ekonomi dan politik baik yang sifatnya internal maupun
eksternal di tingkat daerah menyebabkan upaya mewujudkan ketahanan
pangan dihadapkan pada berbagai permasalahan dan tantangan, serta
adanya perkembangan berbagai potensi dan peluang yang harus
diantisipasi, diatasi dan dimanfaatkan demi terwujudnya ketahanan pangan
pada periode-periode berikutnya. Pencapaian Angka Kekurangan Gizi (AKG)
yang belum terjadi secara merata baik antar golongan masyarakat maupun
antar wilayah pedesaan (nagori) dan perkotaan. Sistem distribusi pangan
yang belum optimal menjadi salah satu pemicu timbulnya masalah pada
subsistem ketersediaan pangan dan konsumsi.
Secara detail, permasalahan strategis ketahanan pangan yang dihadapi adalah:
- Tidak seimbangnya laju peningkatan produksi dan kebutuhan konsumsi, akibat dari tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan menurunnya daya dukung lingkungan
- Rendahnya sebagian besar ketersediaan bahan pangan pokok diluar padi
- Rendahnya daya beli masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok
- Masih lemahnya kemandirian produksi bahan pangan
- Tingginya ketergantungan pangan pokok terhadap beras
- Penganekaragaman/diversifikasi pangan masih rendah
- Masih lemahnya dukungan infrastruktur produksi pangan
- Krisis ekonomi global yang berdampak pada krisis pangan.
- Ketersediaan dan keterjangkauan sembilan bahan pokok.
- Bahan additive pada makanan yang berpengaruh pada keamanan pangan.
- Beredarnya produk pangan yang sudah kadaluwarsa.
- Kuantitas dan kualitas tenaga penyuluh polivalen masih kurang.
- Sarana prasarana penyuluh belum memenuhi standar
- Masih adanya peredaran makanan yang mengandung bahan tambahan pangan dan cemaran (bahan kimia, mikro organisme dan fisik) yang membahayakan bagi kesehatan masyarakat
8. Optimalisasi Pemanfaatan Ruang Untuk Investasi
Sampai dengan saat ini pemanfaatan ruang untuk investasi di Kabupaten
Simalungun masih sangat terbatas. Dilain pihak potensi pengembangan
investasi tersebut sangatlah besar, seperti tingginya aksesibilitas
orang, barang dan jasa, potensi sumber daya alam yang tinggi, serta
sumber daya manusia yang potensial. Berdasarkan hal diatas, optimalisasi
pemanfaatan ruang untuk investasi menjadi isu strategis di Kabupaten
Simalungun. Optimalisasi dilakukan dengan mengembangkan Kawasan Andalan,
Kawasan Perbatasan antar Kabupaten, Kawasan Strategis Kabupaten.
9. Pengarusutamaan Gender
Pengarusutamaan
gender adalah sebuah proses yang memasukkan analisa gender kedalam
program-program kerja dan seluruh kegiatan instansi pemerintah dan
organisasi kemasyarakatan lainnya, mulai dari tahap perencanaan program,
pelaksanaan program sampai monitoring dan evaluasi program tersebut.
Adapun tujuan pengarusutamaan gender ini adalah untuk mengidentifikasi
apakah laki-laki dan perempuan memperoleh akses, peluang, kontrol dan
manfaat yang sama terhadap sumber daya dan hasil pembangunan. Pencapaian
keadilan dan kesetaraan gender masih ditemukan adanya kesenjangan
antara kebijakan yang berpihak pada keadilan gender pada semua aspek
pembangunan, masih lemahnya implementasi kesetaraan gender dalam
berbagai aktivitas kehidupan, masih tingginya kasus-kasus gender, antar
lain KDRT, traficking, kurangnya kaum pria ikut dalam KB, serta
kerawanan sosial lainnya.
10. Ketersediaan Lapangan Pekerjaan
Masalah dalam ketersediaann lapangan kerja adalah sebagai berikut:
- Masih tingginya ketidakseimbangan antara ketersediaan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan di Kabupaten Simalungun
- Belum meratanya peluang serta rendahnya aksesibilitas kesempatan kerja pada berbagai sektor unggulan yang sesuai dengan sebagian besar kondisi kompetensi SDM tenaga kerja Kabupaten Simalungun
- Kurangnya minat investasi terhadap sektor-sektor tertentu, seperti: pertanian dan industri kecil






Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 

